Bleberan Gunungkidul Jadi Desa Wisata Terbaik Versi Kemendes

Bleberan Gunungkidul Jadi Desa Wisata Terbaik Versi Kemendes
Bleberan Gunungkidul Jadi Desa Wisata Terbaik Versi Kemendes

Berita Segar-Desa Bleberan di Gunungkidul menjadi salah satu wisata terbaik pilihan Kementerian Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Desa wisata ini meraih penghargaan kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Salah satu pertimbangan Kemendes PDT memilih Desa Wisata Bleberan, karena di desa ini terdapat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang mampu memanfaatkan teknologi pengelolaan air bersih. Penghargaan ini disampaikan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Tak hanya itu, keberadaan BUMDes juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, dan menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gunungkidul. Selain itu di desa ini ada Air Terjun Sri Getuk dan Gua Rancang Kencana, yang tiap pekan dikunjungi ribuan wisatawan.

Ketua Desa Wisata Bleberan, Tri Harjono, menjelaskan ada tiga unit usaha BUMDes Bleberan. Yakni pemanfaatan wisata, pemanfaatan sumber mata air, dan usaha simpan pinjam. Untuk pemanfaatan sumber mata air, sejak 2007 pihak desa membentuk Unit pengelolaan air, lalu menyalurkan air ke seluruh warga desa. Caranya warga, pihak swasta, dan pemerintah desa menyedot sumber mata air Jambe, lalu ditampung di reservoir.

Dengan cara ini, cukup membayar Rp 3.000 per kubik warga Bleberan tak lagi kekurangan air bersih. Bahkan pengelolaan sumber mata air ini diklaim kian profesional, tak jauh dari pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sebab itu, meski kemarau menerpa, warga setempat tinggal mengambil air dari saluran air yang terpasang di tiap-tiap rumah.

“Saya jamin, pengelolaannya (sumber mata air) profesional seperti PDAM,” ujar Harjono, Senin (15/5/2017).

Untuk kegiatan wisata di Desa Wisata Bleberan, masyarakat setempat memanfaatkan Air Terjun Sri Getuk dan Goa Rancang Kencono. Tiap wisatawan yang berkunjung ke sana, ditarik retribusi Rp 10 ribu dengan sistem paket wisata.

Dengan retribusi ini, wisatawan bisa menikmati salah satu hunian purba dan tempat persembunyian pejuang di Goa Rancang Kencono. “Tiap pengunjung bayar Rp 10 ribu,” ungkapnya.

Dengan berbagai unit usaha ini, pendapatan BUMDes meningkat tiap tahun. Di tahun 2015 pendapatan BUMDes menembus angka Rp 2,1 milyar, 2016 meningkat jadi Rp 2,2 milyar.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban keuangan, pengurus BUMDes tiap tahun menggelar rapat tahunan.

“Kami juga punya dana sosial buat bangun rumah tak layak huni warga kurang mampu,” ucapnya.

Harjono menyebut awalnya tak mudah membentuk BUMDes, lantaran minimnya Sumber daya manusia (SDM). Tapi seiring berjalannya waktu, kerja keras BUMDes kian membuahkan hasil.

Sehingga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Harjono melanjutkan sebenarnya potensi mengembangkan desa wisata tak hanya dimiliki Bleberan, tapi juga desa lainnya di Gunungkidul. Hanya saja menurutnya, masyarakat Gunungkidul kebanyakan belum mengenali potensi desanya masing-masing.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono, menambahkan memang Desa Wisata Bleberan, Kecamatan Playen menjadi salah satu kiblat desa wisata di Gunungkidul. Dia berharap desa lainnya diharapkan mau mencontoh, sehingga tiap desa bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

“Kami mendorong agar tiap desa di Gunungkidul mampu menggali potensinya,” harapnya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*