Ini Dia 5 Hal Unik yang Cuma Bisa Kamu Temukan di Singkawang

Klikbandar88- Kalimantan Barat bukan cuma punya Pontianak dan Betung Kerihun yang layak dikunjungi. Ada Singkawang, kota kecil di sebelah utara Pontianak, yang menyimpan beragam daya tarik bagi pengunjung, apalagi buat kamu-kamu yang enggak suka hal mainstream. Nah, apa aja, sih, yang menarik di Singkawang? agen sakong

1. Perayaan Cap Go Meh

Setiap hari kelima belas dalam kalender Cina dirayakan Cap Go Meh, yang artinya “malam kelima belas”. Rangkaian acara dimulai dari beberapa hari sebelum Cap Go Meh, dengan pawai lampion dan pemberkatan tatung di vihara-vihara. Tatung adalah orang yang dirasuki roh leluhur atau para dewa. Mereka menjadi kebal, tidak merasa sakit atau berdarah saat badannya ditusuk besi tajam dan disayat golok tajam.

Tujuan utama tatung adalah membersihkan kota dari roh-roh jahat agar masyarakat diberkati sepanjang tahun. Namun, pawai tatung, yang menjadi perayaan utama Cap Go Meh di Singkawang, juga jadi incaran turis dan fotografer. Ditandu oleh para pengiring, mereka pamer kesaktian dengan kostum ala ksatria dan raja-raja.

Ingat, katanya enggak boleh berdiri terlalu dekat dengan tatung karena kamu bisa ikut dirasuki roh leluhur! Percaya, engga agen online

2. Vihara dan masjid tertua di Singkawang

Jakarta punya Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Katedral. Di Singkawang, ada Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berseberangan dengan Masjid Raya. Vihara yang populer dengan sebutan Toa Pekong ini sudah berusia hampir 200 tahun! Sampai sekarang vihara ini menjadi vihara utama di Singkawang. Semua tatung yang berparade di hari Cap Go Meh harus diberkati terlebih dahulu di sini agar mendapat kesaktian.

Sementara itu, bangunan asli Masjid Raya sudah berdiri sejak tahun 1885, yang kemudian dibangun kembali dengan megah tahun 1936 setelah habis terbakar. Pada malam hari masjid ini terlihat makin megah dengan pencahayaan berlatar langit gelap.

3. Kerukunan antarumat beragama

Kota Singkawang memiliki kerukunan antar umat beragama yang sangat tinggi. Penduduknya mayoritas Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Masjid dan vihara tertua yang bertetangga tadi adalah salah satu contoh kerukunan tersebut. Pada saat Cap Go Meh, kamu juga bisa menyaksikan bentuk kerukunan itu.

Panitia acara ataupun penonton pawai bukan hanya yang keturunan Tionghoa atau beragama Buddha dan Kong Hu Cu, tapi juga banyak perempuan berjilbab. Begitu pula saat perayaan agama lain, seperti menjelang Lebaran, penduduk lain yang nonmuslim pun ikut memeriahkan acara.

Dalam kehidupan sehari-hari hal ini juga terasa, seperti kedai kopi yang diramaikan oleh penduduk berbagai etnik. Jika seseorang yang tampak Melayu memesan bakmi di kedai Tionghoa, pedagangnya akan memberitahu kalau makanannya memakai minyak babi. Jadi, mereka saling hormat dan membantu.

4. Perumahan tionghoa berusia 100 tahun

jalan2men

Cuma jalan kaki sedikit dari Toa Pekong, kamu bisa menemukan Kawasan Tradisional. Lokasi tepatnya di Gang Mawar, di samping Sungai Singkawang. Di kawasan ini ada beberapa rumah Tionghoa yang berusia lebih dari seratus tahun, lengkap dengan ruang serbaguna dan kelenteng kecil khusus untuk penghuni kawasan.

Kalau kamu sering menonton film kung fu, mungkin situs ini bisa jadi mirip-mirip seperti yang kamu lihat di film. Walaupun sudah mengalami renovasi, model dan fungsi bangunannya masih dipertahankan seperti aslinya. Makanya, banyak banget wisatawan yang main ke sini. agen judi online terpercaya

Seperti saat berkunjung ke mana pun, kamu harus sopan dan berhati-hati di kawasan ini, apalagi karena rumah-rumah ini masih ditempati oleh pemiliknya. Kalau mau berfoto, minta izin dulu. Layaknya bertamu ke rumah orang, minimal permisi dulu dengan tuan rumahnya, ya.

5. Patung naga yang mencoba adil

Mungkin kamu udah tahu kalau naga melambangkan kekuatan dan keberuntungan bagi orang Tionghoa. Jadi, enggak heran kalau banyak patung naga di Singkawang. Ada yang berdiri di tengah jalan juga, tepatnya di persimpangan Jalan Kempol Mahmud dan Jalan Niaga. Uniknya, patung naga dibuat menghadap cenderung ke atas, bukan ke samping seperti biasanya.

Ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa toko yang berhadap-hadapan dengan naga akan bernasib sial sehingga tak ada pemilik toko yang mau kalau patung naga dibuat menghadap tokonya. Karena dikelilingi toko di segala penjuru, maka patung ini dibuat menghadap cenderung ke atas, setidaknya badannya yang melilit dari bawah ke atas. Jadi, semua bisa dapat hoki!

Gimana, seru banget mengeksplor Singkawang, kan? Kalau kamu berencana mau ke sana dan punya pengalaman seru, jangan lupa share di bawah, ya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*