Perbedaan Gaya Hidup Di Dunia Nyata Dan Sosial Media

Perbedaan Gaya Hidup Di Dunia Nyata Dan Sosial Media
Perbedaan Gaya Hidup Di Dunia Nyata Dan Sosial Media

Munculnya media sosial telah memberikan perubahan yang sangat signifikan pada kehidupan masyarakat. Hanya dalam genggaman handphone dan tanpa bertatap muka, kini seorang sudah bisa terhubung dengan orang lain. Sehingga Sekarang memiliki sebuah media sosial adalah seperti hal yang wajib bagi masyarakat.

Sayangnya kemunculan media sosial ternyata juga dibarengi dengan berbagai penyakit sosial yang dulu tidak pernah ditemui sebelumnya. Salah satunya adalah penyakit sosial climber. Perilaku yang selalu ingin terlihat kaya ini sudah mulai menjamur di masyarakat. Bukan main bahayanya dan mungkin saja kamu menjadi salah satu yang terkena penyakit ini. Berikut info lengkapnya.

Penyakit Sosial berbahaya

Social Climber sendiri adalah sebuah penyakit sosial yang punya kemungkinan untuk meruntuhkan moral bangsa. Wujud dari penyakit ini adalah perasaan ingin terlihat tampil kaya dimana pun dan kapan pun. Akibatnya, segala hal bakal dilakukan untuk menjaga status sosialnya di masyarakat. Sejak kemunculan media social, satu per satu para pengguna media sosial seolah sudah terjangkit penyakit ini. Misalnya saja saat nongkrong di sebuah tempat makan atau kafe terkenal, kadang orang harus mempostingnya terlebih dahulu di akun media sosial mereka.

http://klikbandar88.com/?ref=004567

Atau saat orang baru saja membeli barang mahal atau branded, adalah hal yang wajib untuk diunggah di media sosial. Bisa dibilang beberapa media sosial juga ikut andil dalam membentuk mental sosial climber pada bangsa Indonesia. Tidak jarang para sosial climber ini bisa memanfaatkan orang lain demi tercapainya keinginannya. Masalah kesetiaan, nilai mereka nol.

Semua bisa saja terjangkit

Pertanyaannya, siapa saja yang bisa terjangkit? Mungkin kalau dulu hanya para remaja yang sering terkena penyakit ini. Namun sekarang data tersebut sudah tidak valid lagi. Pasalnya, pengguna media sosial sudah dari berbagai kalangan usia. Bukan hanya remaja, kini para orang tua juga ikut pamer memposting kegiatan hedonis seperti liburan, beli barang mewah bahkan beramal.

http://klikbandar88.com/?ref=004567

Hal itu sebenarnya adalah hak pribadi, namun jika dilakukan secara terus-menerus maka bakal membentuk mental yang status sosialnya selalu ingin diakui. Jadi kesimpulannya semua bisa terjangkit penyakit sosial ini.

Indikasi dari para Social Climber

Sangat banyak contoh gejala social climber yang mulai tampak di Indonesia. Selain karena perkembangan zaman, juga banyak public figur yang ikut andil dalam menyebarkan fenomena sosial ini. Misalnya banyak sekali bukan, artis  atau tokoh politik Indonesia yang menunjukkan gaya hidup hedonisnya pada khalayak umum. Membeli barang mewah, liburan keluar negeri dan kehidupan serba hura-hura adalah indikasi awal dari seorang sosial climber.

http://klikbandar88.com/?ref=004567

Padahal meskipun mempunyai barang sebanyak itu, belum tentu kehidupan mereka sebahagia apa yang orang lain pikirkan. Yang terpenting bagi seorang sosial climber adalah statusnya yang bakal dianggap tinggi oleh orang lain. Akhirnya hal tersebut juga ditiru oleh masyarakat biasa, dengan mencoba hidup ala seorang hedonis dengan sering memamerkan apa yang mereka punya.

Dampak dari Social Climber sendiri

Seorang yang memperoleh kekayaan yang dia dapat dengan kerja keras, jarang sekali menjadi seorang social climber. Mereka tahu betapa sulitnya mendapatkan kekayaan tersebut, sehingga lebih memilih untuk berhemat. Sebaliknya, para orang yang terjangkit penyakit sosial climber ini justru paling sering pamer dalam menghamburkan uang, pasalnya mereka mendapatkan uang dengan cara yang sangat mudah atau mungkin itu adalah uang pemberian orang tua.

http://klikbandar88.com/?ref=004567

Hal tersebutlah yang membuat miris karena menjadi potret keadaan masa kini. Sayangnya orang tua pun sekarang juga banyak yang bersifat seperti itu sekarang, berpamer kegiatan apapun di media sosial merupakan agenda yang wajib bagi mereka.

Memiliki hidup mewah bukanlah hal yang salah, namun jika selalu dipamerkan bakal negatif dampaknya. Selain bakal mempengaruhi orang lain untuk hidup hedonis, juga berpengaruh pada diri sendiri yang bakal butuh pengakuan orang lain. Tidak perlu ingin terlihat ‘wah’ di mata orang lain, cukup jadi diri sendiri saja.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*